Bahaya! Ini Efek Samping Cataflam Pada Kehamilan
Obat

Bahaya! Ini Efek Samping Cataflam Pada Kehamilan

Kehamilan merupakan saat yang membahagiakan bagi siapa pun. Seorang wanita harus menunggu minimal 38 minggu untuk dapat bertemu dengan calon bayinya. Selama masa kehamilan, umumnya seorang wanita akan menjaga kehamilannya dengan sangat baik, mulai dari asupan makanan hingga kegiatan berbahaya bayi ia dan calon anaknya. 

Pun, demikian dengan obat-obatan yang ibu hamil konsumsi, perlu diperhatikan apakah obat tersebut berbahaya atau tidak. Termasuk obat untuk meredakan nyeri, seperti cataflam. Bagi ibu hamil yang akan mengonsumsi obat ini harap berhati-hati. Cari tahu dulu apakah ada efek samping cataflam yang berbahaya bagi ibu hamil atau tidak? Berikut penjelasan efek samping obat ini selama kehamilan.  

Efek samping cataflam selama kehamilan

Cataflam merupakan jenis obat anti nyeri atau anti-peradangan nonsteroid (NSAID) yang biasanya diresepkan oleh dokter untuk meredakan nyeri tertentu. Obat ini berfungsi untuk mengurangi senyawa dalam tubuh yang memicu nyeri dan peradangan, seperti pada pasien osteoarthritis dan rheumatoid arthritis. 

Penggunaan obat ini selama kehamilan tidak disarankan kecuali dengan resep dokter, dan diberikan ketika Anda hamil berusia 30 minggu atau lebih. Umumnya, dokter akan memberikan parasetamol terlebih dahulu untuk mengontrol rasa sakit atau demam selama kehamilan. 

Namun, jika paracetamol tidak dapat mengendalikan rasa sakit, ada baiknya untuk meminta perawatan lebih lanjut pada dokter, dan apakah aman bagi kehamilan untuk mengonsumsi cataflam. Pasalnya, pada beberapa kondisi kehamilan efek samping cataflam, antara lain:

  • Penutupan dini duktus arteriosus janin. Sebelum lahir, pembuluh darah pada bayi yang disebut duktus arteriosus harus tetap terbuka untuk memasok nutrisi dan oksigen dari ibu ke bayi selama dalam rahim, dan duktus arteriosus akan menutup ketika bayi lahir. Penutupan dini duktus arteriosus adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan penutupan pembuluh darah ini yang belum saatnya. Mengonsumsi NSAID lain setelah usia kandungan 30 minggu dapat menyebabkan duktus arteriosus menutup padahal bayi masih dalam kandungan. Jika hal ini terjadi, ada baiknya untuk segera menghubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. 
  • Hipertensi paru persisten pada bayi baru lahir atau persistent pulmonary hypertension of newborn (PPHN). PPHN terjadi ketika paru-paru bayi yang baru lahir tidak dapat beradaptasi dengan pernapasan di luar rahim. Dalam beberapa kasus, diduga terkait dengan penutupan dini duktus arteriosus. PPHN umumnya jarang terjadi, namun jika terjadi ini merupakan hal yang serius. 
  • Oligohidramnion (berkurangnya cairan di sekitar bayi). Penggunaan cataflam atau NSAID lain setelah 30 minggu usia kehamilan dapat menyebabkan oligohidramnion, di mana terdapat terlalu sedikit cairan ketuban di kantung di sekitar bayi. 
  • Gangguan ginjal janin. Ada beberapa kasus bayi yang mengalami hal ini. Namun, sebagian besar diatasi atau membaik dengan cepat setelah lahir. Namun, mungkin juga masalah ginjal tersebut bisa terjadi karena komplikasi lain terkait dengan penggunaan cataflam.  
  • Penghambat agregasi trombosit
  • Keterlambatan persalinan atau kelahiran

Penggunaan obat-obatan yang diketahui dapat menghambat sintesis siklooksigenase/prostaglandin dapat mengganggu kesuburan wanita. 

Jadi, selama kehamilan dan menyusui, cataflam harus digunakan dengan resep dokter. Katakan pada dokter bahwa Anda sedang hamil atau pun jika Anda berencana untuk hamil. Pasalnya, efek samping cataflam lainnya dapat menyebabkan keguguran. 

Oleh karena itu tidak dianjurkan untuk digunakan selama trimester pertama dan terakhir kehamilan, karena kemungkinan akan membahayakan janin dan gangguan pada persalinan. Sedangkan pada ibu menyusui, obat ini dapat masuk ke ASI. Meskipun tidak ada laporan bahaya pada bayi menyusu, namun ada baiknya untuk konsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya.