Hidup Sehat

Gula Cair

Mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis sudah menjadi kebiasaan bagi setiap orang, karena dapat memberikan rasa yang nyaman di lidah. Setiap hari orang mengkonsumsi makanan yang mengandung gula, dan bahan gula yang digunakan juga berbeda, salah satu bahan tersebut adalah gula cair.

Gula cair adalah salah satu jenis gula yang digunakan untuk minuman bersoda. Gula cair memiliki konsentrasi tinggi dimana gula tersebut, bila dikonsumsi, tidak menimbulkan rasa kenyang, namun membuat orang ingin menambah porsi. Orang-orang justru tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi gula cair dalam jumlah yang banyak.

Selain itu, gula cair memiliki ciri khas yang berbeda dengan gula pasir. Kedua jenis gula tersebut menimbulkan reaksi yang berbeda pada otak manusia.

Perbedaan lain, sebagai contoh, seseorang yang mengkonsumsi kacang-kacangan dengan jumlah kalori sebanyak 450 kalori dan orang yang mengkonsumsi minuman bersoda dengan jumlah kalori yang sama. Hasil dari perbandingan tersebut menunjukkan bahwa orang yang mengkonsumsi minuman bersoda ingin mengkonsumsi makanan atau minuman lain.

Dengan demikian, jika orang-orang mengkonsumsi gula cair, mereka akan merasa sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak makan atau menambah porsi dari apa yang mereka konsumsi.

Dampak Gula Cair Bagi Tubuh

Gula cair dapat memicu dampak negatif bagi tubuh. Berikut adalah dampak negatif yang terjadi pada kesehatan manusia bila manusia mengkonsumsi gula cair:

  • Naiknya berat badan

Jika manusia mengkonsumsi gula cair, maka akan berpotensi untuk mengalami kenaikan berat badan. Gula cair termasuk bahan yang mengandung gula tinggi dimana bahan tersebut dapat membuat tubuh manusia memerlukan kalori yang lebih banyak.

Tidak hanya itu, beberapa penelitian juga menemukan kaitannya antara konsumsi fruktosa secara berlebihan dengan penumpukan lemak di perut dimana masalah ini bisa menjadi salah satu indikator sindrom metabolik yang berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia.

  • Gula darah tidak terkendali

Jika manusia mengkonsumsi gula, khususnya gula cair, secara berlebihan, maka dapat memicu kadar gula darah yang tinggi di dalam tubuh dan resistansi insulin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar fruktosa yang tinggi dapat menimbulkan sensitivitas insulin mereka menurun. Tugas insulin adalah mengendalikan gula di dalam darah agar manusia terhindar dari risiko diabetes tipe 2.

Gula cair dapat membuat manusia mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah yang banyak dalam waktu singkat. Sebuah penelitian yang melibatkan 300.000 orang, mereka yang mengkonsumsi 2 minuman dengan pemanis tambahan setiap hari, menunjukkan bahwa 26% responden lebih rentan terhadap diabetes tipe 2.

  • Masalah pada jantung

Gula cair juga dapat memicu gangguan pada jantung. Ketika seseorang mengkonsumsi gula cair dalam jumlah yang banyak, maka terjadi peningkatan pada molekul lemak di pembuluh darah. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah sehingga dapat memicu serangan jantung.

Cara Mengatasi Masalah Seperti Ini

Orang-orang perlu dibatasi dengan mengkonsumsi 143 kalori dari makanan yang mengandung gula cair. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap asupan gula di dalam tubuh. Sebagian orang tidak mengalami masalah jika mengkonsumsi gula cair dalam jumlah yang banyak, sebagian orang perlu membatasi jumlah asupan pada makanan yang mengandung gula, bahkan sebagian tidak ingin mengkonsumsi makanan yang mengandung gula.

Untuk mengatasi masalah seperti ini, orang-orang dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi gula cair, apalagi dalam jumlah yang banyak. Mereka bisa mengkonsumsi beberapa alternatif sebagai berikut: air putih, kopi, teh herbal, dan teh hijau.

Kesimpulan

Itulah informasi tentang gula cair yang perlu Anda pahami. Anda sebaiknya menahan diri untuk tidak mengkonsumsi bahan seperti ini, apalagi dalam jumlah yang banyak. Jika Anda mengkonsumsi dalam jumlah yang banyak, maka dapat memicu gangguan pada tubuh seperti serangan jantung. Jika Anda mengalami gangguan pada tubuh karena mengkonsumsi gula cair, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.