Perbedaan Belajar Sambil Bermain dengan Bermain Sambil Belajar

Bisa dibilang proses pembelajaran yang diterapkan di Indonesia terjadi dengan sangat serius hingga nyaris tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan ceria. Meskipun terdapat konsep bermain sambil belajar, tujuan yang ingin dicapai tentu membuat siswa atau anak tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran sekaligus menghilangkan stigma belajar selalu dengan keseriusan.

Materi pendidikan anak usia dini memang diarahkan untuk bermain dengan belajar, dengan metode tersebut diharapkan bisa mendukung anak untuk tumbuh serta mandiri dan memiliki kontrol atas lingkungan sekitar. Hingga saat ini metode ini memang sudah banyak diterapkan, tak hanya untuk anak usia dini tetapi juga menyentuh kalangan remaja.

Bermain Sambil Belajar

Seperti misalnya ketika anak sedang bermain lego, dalam keadaan ini orang tua juga harus memahami bahwa sang anak juga sedang belajar. Sambil asyik bermain, anak ini belajar bagaimana menyesuaikan bentuk-bentuk mainan lego menjadi sesuatu seperti misalnya bangunan atau bentuk tiga dimensi lainnya.

Namun, kondisi ini memaksa orang tua untuk mengetahui apakah sang anak sedang belajar sambil bermain atau bermain dengan belajar. Kedua istilah ini berbeda, yang membedakan adalah jika belajar sambil bermain adalah untuk menekankan sang anak terhadap pelajarannya. Sementara istilah satunya adalah menekankan anak pada jenis permainannya.

Ketika seorang anak sedang bermain, sesungguhnya mereka sedang belajar, anak akan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar. Ia bermain dengan berbagai hal-hal baru yang terdapat di sekitarnya. Proses dari penyerapan inilah yang disebut sebagai aktivitas belajar, pada tahap inilah penting bagi orang tua dan guru memilih dan menentukan jenis permainan.

Pemilihan dan penentuan jenis permainan sama persis ketika anak memilih materi pembelajaran dari guru yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. Pemilihan jenis permainan yang sesuai bisa menjadikan perkembangan anak agar lebih edukatif, anak pun akan senang ketika memainkan dan mudah menyesuaikan.

Apabila jenis permainan tidak sesuai dengan perkembangan anak, yang terjadi justru bermain hanya untuk mainan itu sendiri. Bahkan bisa berdampak buruk bagi pembentukan karakter dan kecerdasan, sementara itu jika sampai salah memilih permainan yang selaras dengan perkembangan anak mampu membantu mengembangkan aspek kecerdasan tertentu.

Sehingga kesan yang didapat adalah bermain untuk belajar bukan bermain untuk mainan yang tengah dimainkan. Contoh belajar sambil bermain seperti ketika anak dihadapkan dengan beberapa macam warna bola, kemudian anak diminta untuk mengumpulkan atau mengelompokkan setiap warna yang ada dengan kesamaan masing-masing.

Setelah menyamakan warna bola tersebut, sambil bermain anak kemudian menghitung berapa jumlah bola dengan warna yang sama. Dari kegiatan ini bisa diambil kesimpulan bahwa anak sedang melakukan proses belajar meskipun sambil bermain. Nilai edukasi yang didapat adalah anak bisa mengenal lebih jauh tentang macam-macam warna dan belajar menghitung.

Manfaat lain dari bermain sambil belajar adalah pengenalan perasaan, termasuk untuk perkembangan emosi. Melalui bermain, seorang anak bisa belajar menerima, berekspresi dan mengatasi masalah dengan cara yang positif. Dengan bermain, anak juga memiliki kesempatan untuk mengenal diri mereka sendiri.

Selain itu, bermain juga memberikan jalan bagi perkembangan sosial anak ketiga berbagai dengan anak lain. Bermain merupakan sarana yang paling utama bagi pengembangan kemampuan sosialisasi dan memperluas empati terhadap orang lain, selain itu juga bisa untuk mengurangi sikap egosentrisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *