Mengenal Minyak Sayur dan Risiko Kesehatannya

Mengenal Minyak Sayur dan Risiko Kesehatannya

Minyak sayur adalah salah satu jenis minyak yang banyak digunakan untuk memasak, baik untuk menumis, menggoreng, membuat kue, memanggang dan lainnya. Minyak sayur seringkali menjadi pilihan murah yang bisa digunakan untuk segala jenis masakan dan tentu dengan rasa netral. 

Minyak sayur bisa terbuat dari beragam minyak nabati. Baik lemak jenuh dan lemak tak jenuh bisa ada di dalamnya. Meski terlihat sehat, tetapi minyak sayur juga dapat menyebabkan masalah kesehatan. Efek kesehatan dapat bervariasi tergantung pada asam lemak apa yang dikandungnya, tanaman apa yang diekstraksi, dan bagaimana pemrosesannya.

Bagaimana minyak sayur dibuat?

Minyak yang diekstrak dari tanaman umumnya dikenal sebagai minyak nabati atau minyak sayur. Minyak ini banyak digunakan untuk memasak, memanggang, atau dalam makanan olahan, termasuk saus salad, margarin, mayones, dan kue.

Minyak sayur termasuk juga minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak zaitun, dan minyak kelapa. Minyak sayur olahan baru tersedia, ketika teknologi untuk mengekstraknya diciptakan.

Prosesnya dengan mengekstrasi tanaman baik menggunakan pelarut kimia atau pabrik minyak. Kemudian mereka sering dimurnikan dan terkadang diubah secara kimiawi. Orang-orang yang sadar akan kesehatan lebih memilih minyak yang dibuat dengan menghancurkan atau menekan tanaman atau biji, daripada yang diproduksi menggunakan bahan kimia.

Konsumsi minyak nabati meningkat drastis dalam satu abad terakhir. Beberapa produsen melabeli minyak sayur mereka dengan ‘sehat jantung’. Ini karena beberapa penelitian menunjukkan beberapa manfaat kesehatan yang tersedia dari minyak yang memiliki lemak tak jenuh ganda. 

Banyak pula yang merekomendasikan minyak sayur sebagai alternatif sumber lemak jenuh, seperti mentega, lemak babi, dan lemak. Terlepas dari kemungkinan manfaat kesehatannya, beberapa ilmuwan juga khawatir tentang risiko kesehatannya. Terlebih seberapa banyak itu dapat dikonsumsi. Sebagian besar, kekhawatiran munculnya risiko kesehatan ini berlaku untuk minyak yang mengandung banyak lemak omega 6.

Risiko Kesehatan Minyak Sayur

Para profesional kesehatan sering merekomendasikan minyak nabati atau minyak sayur bagi mereka yang berisiko terkena penyakit jantung. Pasalnya, minyak sayur umumnya rendah lemak jenuh dan bermanfaat bagi kesehatan, walau masih kontroversi.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh ganda mengurangi risiko masalah jantung sebesar 17%, tetapi tidak memiliki efek signifikan pada risiko kematian akibat penyakit jantung.

Penelitian lainnya memperlihatkan bahwa asam lemak tak jenuh ganda omega-3 tampak memiliki manfaat yang lebih besar daripada omega-6. Banyak ahli gizi prihatin tentang tingginya jumlah omega-6 yang ditemukan di beberapa minyak sayur. Namun, hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa lemak omega-6 memengaruhi risiko penyakit jantung.

Melansir dari Very Well Health, lemak omega 6 atau PUFA (lemak tak jenuh ganda) memiliki bahaya kesehatan. Pasalnya PUFA mudah teroksidasi dan dalam aromanya bisa menjadi tengik. Minyak teroksidasi mudah diserap melalui usus kita, di mana mereka cenderung mempercepat aterosklerosis, mengubah DNA, dan memicu peradangan.

Untuk meminimalkan oksidasi minyak sayur, simpanlah dalam wadah yang tidak tembus cahaya, di lingkungan yang sejuk dan gelap, serta jangan menyimpannya dalam waktu lama. Minyak sayur yang mengandung omega-6 tinggi serta harus dipertimbangkan untuk dihindari adalah:

  • Minyak kedelai
  • Minyak jagung
  • Minyak biji kapas
  • Minyak bunga matahari
  • Minyak kacang
  • Minyak wijen
  • Minyak dedak padi

Asam lemak omega-6 dan omega-3 adalah asam lemak esensial yang dibutuhkan oleh tubuh Anda, tapi harus dalam takaran yang tepat. Para ilmuwan berhipotesis bahwa lebih banyak omega-6 daripada omega-3 dapat menyebabkan peradangan kronis.

Peradangan kronis ini merupakan faktor yang mendasari beberapa penyakit, seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, dan radang sendi. Sebuah studi observasional juga mengaitkan asupan tinggi lemak omega-6 dengan peningkatan risiko obesitas, penyakit jantung, radang sendi, dan penyakit radang usus.

Meski begitu, penelitian-penelitian yang sudah ada kurang menjelaskan hubungan sebab akibat atau belum ada yang secara pasti mengatakan bahwa lemak omega 6 dapat meningkatkan peradangan, sehingga masih diteliti.

Namun, bila Anda khawatir, hindari minyak atau margarin yang mengandung minyak tinggi lemak omega-6 dan pilihlah yang rendah omega 6, seperti minyak zaitun. Minyak sayur komersial dimungkinkan mengandung lemak trans, yang terbentuk ketika minyak dihidrogenasi.

Hidrogenasi banyak digunakan produsen makanan untuk mengeraskan minyak sayur, membuatnya padat seperti mentega pada suhu ruang. Minyak sayur yang ditemukan dalam margarin umumnya terhidrogenasi dan penuh dengan lemak trans. 

Asupan lemak trans yang tinggi dikaitkan dengan segala macam penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, obesitas, kanker, dan diabetes. Jika Anda melihat suatu produk yang mencantumkan minyak terhidrogenasi sebagai bahan, kemungkinan produk minyak atau margarin tersebut mengandung lemak trans. Sehingga Anda dapat menghindari produk ini.

Minyak sayur dianggap lebih sehat dibanding dengan minyak hewani lainnya. Tapi tentu ada beberapa risiko yang terdapat didalamnya. Ini dapat terkait dengan kandungan lemak yang tersedia. Beberapa minyak sayur memiliki lemak omega 6 yang dikhawatirkan dapat menimbulkan banyak masalah kesehatan. Tapi hal ini masih diteliti lebih lanjut. 

Untuk menghindari risikonya, pilihlah minyak sayur yang rendah lemak omega 6 dan rendah lemak trans. Minyak zaitun merupakan salah satu minyak sayur sehat yang bisa Anda coba. Temukan lebih banyak artikel tentang minyak sayur di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ yang dapat di-dowload di App Store atau Play Store.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *