Kenali 6 Fakta Kehamilan dengan Sindrom Antifosfolipid

Sindrom Antifosfolipid adalah gangguan autoimun yang menyebabkan darah mudah membeku dan menggumpal. Dalam kondisi normal, antibodi berperan melawan infeksi. Namun, pada sindrom antifosfolipid, antibodi justru bertindak keliru dengan menyerang senyawa lemak yang disebut fosfolipid yang berperan dalam proses pembekuan darah. 

Pada ibu hamil, sindrom ini menyebabkan masalah untuk janin yang sedang berkembang hingga menyebabkan keguguran

image Sindrom Antifosfolipid

1. Menyebabkan 15-20 persen wanita keguguran 

Risiko keguguran pada wanita dengan sindrom antifosfolipid disebabkan karena pembekuan darah kecil sehingga memblokir suplai darah ke plasenta.

Faktanya sebesar 15-20 persen wanita yang mengalami keguguran disebabkan oleh sindrom ini. Bahkan, sejumlah penelitian membuktikan jika banyak wanita dengan sindrom antifosfolipid mengalami keguguran berulang.

2. Membuat beberapa masalah pada kehamilan  

Sindrom ini dapat menyebabkan beberapa masalah pada kehamilan, seperti:  

  • Urine berbusa atau bengkak di tangan, kaki, atau wajah
  • Keguguran berulang pada usia kehamilan kurang dari 10 minggu
  • Keguguran, dapat sekali saja atau berulang, pada usia kehamilan di atas 10 minggu
  • Persalinan prematur
  • Pertumbuhan janin lebih lambat dari yang seharusnya
  • Preeklampsia, yaitu kondisi keracunan kehamilan yang ditandai dengan hipertensi dan proteinuria (adanya protein pada air seni) pada usia kehamilan di atas 20 minggu
  • Eklampsia, yaitu preeklampsia disertai dengan kejang
  • Tanda-tanda awal pembekuan darah, seperti mati rasa, bengkak, atau nyeri tiba-tiba di kaki dan lengan, serta sesak napas, nyeri dada, batuk darah atau lendir yang berlumuran darah, kelumpuhan atau kelemahan pada wajah atau anggota tubuh.

3. Masih bisa melahirkan normal

Faktanya, ibu dengan sindrom antifosfolipid ini masih bisa melahirkan normal. selama kondisi ibu maupun bayi dalam kondisi sehat.  Namun, sama seperti ibu hamil pada umumnya, jika ibu maupun bayinya mengalami stres atau mengalami masalah seperti terjadi persalinan prematur, naka operasi caesar menjadi metode persalinan yang paling aman dan tercepat. 

Artinya, persalinan melalui operasi hanya dilakukan dengan alasan medis bukan karena APS. Jika persalinan dilakukan melalui operasi caesar, konsumsi obat-obatan pengencer darah harus dihentikan 24 jam sebelumnya.

4. Apa yang harus dilakukan ibu dengan sindrom antifosfolipid setelah melahirkan bayi?

Setelah berhasil melahirkan, ibu dengan sindrom antifosfolipid ini harus memantau kondisi mereka. Ada beberapa hal yang dilakukan ibu dengan sindrom APS pasca melahirkan, diantaranya:

  • Suntikan subkutan heparin direkomendasikan selama 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan untuk mencegah pembekuan darah 
  • Kontrol rutin dan menggunakan obat dengan teratur sesuai petunjuk dokter
  • Menghindari obat-obat hormonal, misalnya pil KB yang mengandung estrogen karena dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pembekuan
  • Rutin berolahraga (4–5 kali per minggu, minimal selama 30 menit per kali)
  • Menghindari duduk terlalu lama (lebih dari dua jam)
  • Menjauhi paparan asap rokok
  • Menjaga berat badan ideal

5. Ibu dengan sindrom APS masih bisa menyusui

Perihal menyusui, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, sebagian besar wanita penderita APS dapat menyusui bayinya.  Namun, perlu diketahui, ibu dengan sindrom APS harus mengonsumsi sejumlah obat yang dapat ditransfer melalui ASI ke bayi. Untuk itu, perhatikan aturan dan diskusikan dengan dokter perihal obat-obatan ini. Berikut ini beberapa aturannya:

  • Obat yang aman dikonsumsi selama menyusui: antiinflamasi nonsteroid (termasuk LDA), acetaminophen, hydroxychloroquine, prednisone dosis rendah (kurang dari 20 mg / hari), warfarin dan heparin 
  • Jika dosis harian prednison melebihi 20 mg, ibu harus menunggu sekitar empat jam setelah minum obat sebelum menyusui bayinya.
  • Hindari menyusui saat menggunakan siklofosfamid, metotreksat, atau mikofenolat mofetil.

6. 70 persen wanita dengan sindrom APS berhasil melahirkan  

Wanita yang telah didiagnosis dengan sindrom antifosfolipid memiliki sekitar 70 persen kemungkinan kehamilan yang berhasil dengan pengobatan.

Selama kehamilan pastikan Anda melakukan kunjungan rutin lebih sering selama trimester ketiga, tes darah dan urin, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan USG kebidanan sangat penting.  Adapun pengobatan sindrom antifosfolipid memiliki beberapa tujuan, yaitu:

  • Untuk mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah
  • Mengobati dan menghilangkan penyumbatan pembuluh darah
  • Mencegah terjadinya komplikasi pada kehamilan

Biasanya dokter akan memberikan beberapa obat yang terdiri dari aspirin dosis rendah dan atau suntikan heparin.

karena perawatan tersebut dapat meningkatkan komplikasi pada kehamilan trimester 3 , biasanya pasien perlu berkonsultasi dengan perinatologis dan menjalani perawatan prenatal secara teratur selama kehamilan.

Umumnya obat-obatan dapat mencegah penderita sindrom antifosfolipid dari komplikasi berbahaya. Namun kadang dapat pula terjadi kondisi yang tidak dapat dikontrol dengan obat-obatan.

Pastikan jika Anda mengalami gejala yang membuat tubuh menjadi tidak berdaya selama kehamilan, segera konsultasikan kepada dokter, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *