Faktor Risiko Penyebab Spondilosis Servikal
Penyakit

Faktor Risiko Penyebab Spondilosis Servikal

Pernah mengalami rasa sakit di bagian leher dalam jangka waktu cukup lama sehingga menyebabkan sakit kepala yang parah ataupun kesemutan di beberapa bagian tubuh? Jika iya, jangan-jangan Anda sedang mengalami spondilosis servikal. 

Spondilosis vertikal merupakan kondisi ketika ruas tulang leher dan bantalannya menderita kerusakan. Kerusakan inilah yang kemudian menekan saraf tulang belakang secara keseluruhan sehingga menyebabkan rasa sakit di bagian leher Anda. Rasa sakit pun sangat mudah menjalar ke bagian kepala dan bahu sehingga menimbulkan sakit kepala yang berlebihan serta kebas di bagian anggota gerak tubuh, seperti tangan. 

Banyak kondisi yang bisa menyebabkan kondisi spondilosis servikal Anda alami. Berikut ini adalah beberapa faktor risiko yang dapat membuat Anda lebih rentan mengalami kondisi kerusakan leher dan bantalannya. 

  1. Usia 

Tahukah Anda bahwa hampir 9 dari 10 orang berusia 60 tahun mengalami spondilosis servikal? Faktor usia memang sangat berpengaruh pada kerusakan tulang di berbagai bagian tubuh Anda, tidak terkecuali di bagian leher dan bantalannya yang mungkin akan mengalami keausan. Tidak sedikit orang bahkan sudah mengalami kerusakan leher sejak usia 30 tahunan, yang mana gejalanya semakin bertambah parah seiring bertambahnya usia. Spondilosis sendiri merupakan masalah penuaan yang dianggap wajar. 

  1. Genetik 

Kalau Anda memiliki keluarga yang pernah atau sedang mengalami kondisi spondilosis servikal, kehati-hatian perlu ditingkatkan. Soalnya, orang-orang yang memiliki riwayat keluarga spondilosis servikal cenderung lebih berisiko terkena masalah kesehatan yang satu ini. Kondisi tersebut terjadi karena spondilosis servikal sangat berhubungan dengan kondisi genetik seseorang. 

  1. Cedera

Seseorang yang pernah mengalami cedera di bagian leher akan lebih mudah terkena spondilosis servikal. Ini karena cedera yang dialami leher umumnya tidak dapat pulih dengan total dan menyisakan kerusakan kecil di bagian leher maupun bantalannya. 

  1. Merokok 

Anda punya kebiasaan merokok? Tahu tidak, orang-orang yang terbiasa merokok memiliki risiko terkena spondilosis servikal lebih awal. Ini karena merokok meningkatkan risiko nyeri dan cedera leher sehingga risiko bantalan leher rusak menjadi lebih besar. Jika bantalan leher rusak, Anda pun akan lebih mudah mengalami berbagai gejala spondilosis servikal, seperti sakit kepala dan kesemutan di bagian anggota gerak tubuh.

  1. Kelebihan Berat Badan 

Berat badan yang tidak ideal ternyata berpengaruh ke peningkatan risiko terkena spondilosis servikal. Anda yang memiliki berat badan berlebih cenderung memberikan beban lebih berat bagi leher untuk menahan kepala. Kondisi tersebutlah yang akhirnya membuat masalah berat badan Anda kemungkinan besar menjadi penyebab utama spondilosis servikal. 

  1. Kurang Bergerak 

Orang-orang yang terbiasa duduk atau tidur seharian akan lebih rentan terkena spondilosis servikal. Pasalnya saat tidak bergerak, leher akan lebih mudah kaku dan mengalami kerusakan. Hal ini berbeda apabila Anda aktif bergerak setiap hari sehingga kelenturan leher dan bantalannya dapat dipertahankan. Karena alasan kurang gerak inilah, banyak orang-orang yang berusia baru di awal 30 tahun akan mudah mengeluhkan gejala yang mengarah ke spondilosis servikal. 

  1. Pekerjaan 

Faktor pekerjaan dapat pula memperbesar risiko Anda terkena spondilosis servikal. Orang-orang dengan pekerjaan yang mengharuskan ia melakukan gerakan leher tertentu sepanjang waktu akan lebih mudah terkena masalah kesehatan ini. Pekerjaan yang membuat Anda harus menatap layar laptop sepanjang hari ataupun pekerjaan tukang ledeng yang membuatnya terus-menerus melihat ke bawah dengan kepala tertunduk menjadi beberapa profesi yang berisiko menghadirkan masalah spondilosis servikal. 

***

Walaupun spondilosis servikal merupakan tanda penuaan yang wajar, jangan sampai masalah kesehatan ini menyerang Anda lebih awal. Aktif bergerak serta menjaga leher agar tidak mengalami cedera merupakan langkah-langkah preventif untuk mengurangi faktor risiko penyakit ini.

Penyakit

Tinea Barbae: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Tinea barbae merupakan infeksi jamur yang timbul pada kulit wajah dan sekitarnya dimana kondisi tersebut disertai dengan rambut. Infeksi tersebut terjadi pada pria remaja dan dewasa. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala seperti gatal. Orang-orang yang mengalami kondisi tersebut disebabkan karena berada di lingkungan tropis dan memiliki kelembaban yang tinggi.

image Tinea Barbae

Gejala

Seseorang yang mengalami tinea barbae akan menunjukkan gejala berikut:

  • Benjolan merah.
  • Infeksi pada area kulit yang disertai dengan rambut.
  • Gatal (pada area yang terinfeksi).
  • Pembengkakan (pada area yang terinfeksi).
  • Peradangan pada kulit di sekitar wajah.

Penyebab

Tinea barbae disebabkan oleh jamur dermatofit. Jamur tersebut dapat menimbulkan berbagai infeksi pada kulit. Jenis jamur tersebut timbul pada bagian yang meliputi rambut.

Selain jamur dermatofit, tinea barbae juga disebabkan oleh pisau cukur yang tidak bersih. Alat tersebut dapat menimbulkan iritasi pada folikel atau kantung rambut yang ada di sekitar janggut. Hewan juga dapat menyebabkan penularan infeksi jamur pada manusia.

Jika Anda Mengalami Tinea Barbae

Jika Anda mengalami tinea barbae dan ingin mengatasi masalah tersebut, Anda sebaiknya hubungi dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Daftar pertanyaan yang berkaitan dengan tinea barbae.
  • Daftar gejala yang Anda alami akibat tinea barbae.
  • Daftar riwayat medis (jika Anda memilikinya).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Bagaimanakah kondisi yang Anda alami karena tinea barbae?
  • Apakah Anda sering mencukur?

Diagnosis

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat melakukan diagnosis yang meliputi:

  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi yang dialami pasien parah atau tidak.

  • Pemeriksaan mikroskopis

Pemeriksaan mikroskopis dilakukan untuk membantu menganalisa kondisi kulit pasien.

Pengobatan

Setelah melakukan diagnosis, dokter dapat menentukan pengobatan bagi pasien yang mengalami tinea barbae. Berikut adalah cara-cara untuk mengobati tinea barbae:

  • Obat-obatan

Ada sejumlah obat yang dapat Anda gunakan, namun tergantung pada kondisi yang Anda alami. Jika Anda mengalami infeksi, Anda sebaiknya gunakan krim, pil, atau sampo. Jika Anda mengalami peradangan, Anda sebaiknya gunakan krim atau pil.

  • Bahan alami

Anda dapat menggunakan bahan-bahan alami seperti aloe vera dan tea tree oil untuk mengatasi tinea barbae. Bahan-bahan tersebut tidak hanya mencegah bakteri pada kulit wajah, namun juga dapat mencegah peradangan. Bahan-bahan tersebut dapat Anda gunakan beberapa kali sehari untuk memberikan efek yang baik pada kulit wajah Anda.

  • Operasi

Operasi merupakan pilihan lain yang perlu Anda lakukan jika kondisi yang Anda alami memburuk. Contoh prosedur operasi yang dapat Anda lakukan adalah laser penghilang rambut. Prosedur tersebut dapat mengatasi infeksi jamur.

Anda juga perlu menjaga kulit wajah secara rutin. Jika Anda tidak merawat kulit wajah Anda dengan baik, maka risiko infeksi jamur bisa timbul lagi (jika Anda pernah mengalaminya).

Pencegahan

Tinea barbae dapat Anda cegah melalui beberapa cara berikut:

  • Bercukur

Anda sebaiknya menggunakan alat cukur listrik untuk mempermudah pemotongan rambut di sekitar mulut. Namun, jika Anda menggunakan alat cukur biasa, Anda perlu menggantikannya secara rutin (jika kotor dan tidak bisa dibersihkan).

Ketika Anda mencukur, Anda sebaiknya cukur dari arah rambut (di sekitar mulut) tumbuh daripada mencukur dari arah yang berlawanan.

  • Kebersihan tubuh

Anda juga perlu membersihkan tubuh secara rutin, termasuk bagian wajah, untuk mengurangi risiko seperti jerawat.

  • Penularan

Hewan yang mengalami infeksi jamur dapat menyebabkan seseorang mengalami tinea barbae. Oleh karena itu, Anda perlu menghindari hewan tersebut.

Kesimpulan
Tinea barbae merupakan kondisi yang perlu diwaspadai, karena dapat menimbulkan berbagai gejala pada wajah. Meskipun demikian, Anda dapat mengurangi risiko tersebut dengan melakukan cara-cara yang disebutkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa tanyakan ke dokter tentang tinea barbae.

Penyakit

Kenali 6 Fakta Kehamilan dengan Sindrom Antifosfolipid

Sindrom Antifosfolipid adalah gangguan autoimun yang menyebabkan darah mudah membeku dan menggumpal. Dalam kondisi normal, antibodi berperan melawan infeksi. Namun, pada sindrom antifosfolipid, antibodi justru bertindak keliru dengan menyerang senyawa lemak yang disebut fosfolipid yang berperan dalam proses pembekuan darah. 

Pada ibu hamil, sindrom ini menyebabkan masalah untuk janin yang sedang berkembang hingga menyebabkan keguguran

image Sindrom Antifosfolipid

1. Menyebabkan 15-20 persen wanita keguguran 

Risiko keguguran pada wanita dengan sindrom antifosfolipid disebabkan karena pembekuan darah kecil sehingga memblokir suplai darah ke plasenta.

Faktanya sebesar 15-20 persen wanita yang mengalami keguguran disebabkan oleh sindrom ini. Bahkan, sejumlah penelitian membuktikan jika banyak wanita dengan sindrom antifosfolipid mengalami keguguran berulang.

2. Membuat beberapa masalah pada kehamilan  

Sindrom ini dapat menyebabkan beberapa masalah pada kehamilan, seperti:  

  • Urine berbusa atau bengkak di tangan, kaki, atau wajah
  • Keguguran berulang pada usia kehamilan kurang dari 10 minggu
  • Keguguran, dapat sekali saja atau berulang, pada usia kehamilan di atas 10 minggu
  • Persalinan prematur
  • Pertumbuhan janin lebih lambat dari yang seharusnya
  • Preeklampsia, yaitu kondisi keracunan kehamilan yang ditandai dengan hipertensi dan proteinuria (adanya protein pada air seni) pada usia kehamilan di atas 20 minggu
  • Eklampsia, yaitu preeklampsia disertai dengan kejang
  • Tanda-tanda awal pembekuan darah, seperti mati rasa, bengkak, atau nyeri tiba-tiba di kaki dan lengan, serta sesak napas, nyeri dada, batuk darah atau lendir yang berlumuran darah, kelumpuhan atau kelemahan pada wajah atau anggota tubuh.

3. Masih bisa melahirkan normal

Faktanya, ibu dengan sindrom antifosfolipid ini masih bisa melahirkan normal. selama kondisi ibu maupun bayi dalam kondisi sehat.  Namun, sama seperti ibu hamil pada umumnya, jika ibu maupun bayinya mengalami stres atau mengalami masalah seperti terjadi persalinan prematur, naka operasi caesar menjadi metode persalinan yang paling aman dan tercepat. 

Artinya, persalinan melalui operasi hanya dilakukan dengan alasan medis bukan karena APS. Jika persalinan dilakukan melalui operasi caesar, konsumsi obat-obatan pengencer darah harus dihentikan 24 jam sebelumnya.

4. Apa yang harus dilakukan ibu dengan sindrom antifosfolipid setelah melahirkan bayi?

Setelah berhasil melahirkan, ibu dengan sindrom antifosfolipid ini harus memantau kondisi mereka. Ada beberapa hal yang dilakukan ibu dengan sindrom APS pasca melahirkan, diantaranya:

  • Suntikan subkutan heparin direkomendasikan selama 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan untuk mencegah pembekuan darah 
  • Kontrol rutin dan menggunakan obat dengan teratur sesuai petunjuk dokter
  • Menghindari obat-obat hormonal, misalnya pil KB yang mengandung estrogen karena dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pembekuan
  • Rutin berolahraga (4–5 kali per minggu, minimal selama 30 menit per kali)
  • Menghindari duduk terlalu lama (lebih dari dua jam)
  • Menjauhi paparan asap rokok
  • Menjaga berat badan ideal

5. Ibu dengan sindrom APS masih bisa menyusui

Perihal menyusui, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, sebagian besar wanita penderita APS dapat menyusui bayinya.  Namun, perlu diketahui, ibu dengan sindrom APS harus mengonsumsi sejumlah obat yang dapat ditransfer melalui ASI ke bayi. Untuk itu, perhatikan aturan dan diskusikan dengan dokter perihal obat-obatan ini. Berikut ini beberapa aturannya:

  • Obat yang aman dikonsumsi selama menyusui: antiinflamasi nonsteroid (termasuk LDA), acetaminophen, hydroxychloroquine, prednisone dosis rendah (kurang dari 20 mg / hari), warfarin dan heparin 
  • Jika dosis harian prednison melebihi 20 mg, ibu harus menunggu sekitar empat jam setelah minum obat sebelum menyusui bayinya.
  • Hindari menyusui saat menggunakan siklofosfamid, metotreksat, atau mikofenolat mofetil.

6. 70 persen wanita dengan sindrom APS berhasil melahirkan  

Wanita yang telah didiagnosis dengan sindrom antifosfolipid memiliki sekitar 70 persen kemungkinan kehamilan yang berhasil dengan pengobatan.

Selama kehamilan pastikan Anda melakukan kunjungan rutin lebih sering selama trimester ketiga, tes darah dan urin, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan USG kebidanan sangat penting.  Adapun pengobatan sindrom antifosfolipid memiliki beberapa tujuan, yaitu:

  • Untuk mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah
  • Mengobati dan menghilangkan penyumbatan pembuluh darah
  • Mencegah terjadinya komplikasi pada kehamilan

Biasanya dokter akan memberikan beberapa obat yang terdiri dari aspirin dosis rendah dan atau suntikan heparin.

karena perawatan tersebut dapat meningkatkan komplikasi pada kehamilan trimester 3 , biasanya pasien perlu berkonsultasi dengan perinatologis dan menjalani perawatan prenatal secara teratur selama kehamilan.

Umumnya obat-obatan dapat mencegah penderita sindrom antifosfolipid dari komplikasi berbahaya. Namun kadang dapat pula terjadi kondisi yang tidak dapat dikontrol dengan obat-obatan.

Pastikan jika Anda mengalami gejala yang membuat tubuh menjadi tidak berdaya selama kehamilan, segera konsultasikan kepada dokter, ya!

Jangan Diremehkan, Ini Penyebab Mata Sakit Saat Berkedip
Penyakit

Jangan Diremehkan, Ini Penyebab Mata Sakit Saat Berkedip

Pernahkah Anda merasakan mata sakit saat berkedip? Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Faktor penyebab ini bisa serius, bisa juga tidak.

Sayangnya, banyak orang lebih sering meremehkan penyebab mata sakit saat berkedip. Padahal, bila tidak ditangani dengan benar, hal ini bisa menimbulkan efek negatif jangka panjang pada mata. 

Hal yang menyebabkan mata sakit saat berkedip

Memahami penyebab mata sakit saat berkedip sebenarnya cukup penting. Dengan mengetahui penyebabnya, Anda bisa mengetahui cara untuk mengobati serta mencegah kondisi ini terulang kembali di kemudian hari.

Berikut ini beberapa faktor yang bisa menimbulkan rasa sakit ketika berkedip:

  • Alergi

Setiap orang bisa mengalami alergi apa saja. Efek dari alergi pun bisa timbul di berbagai area tubuh, termasuk pada mata. 

Alergi terhadap zat seperti serbuk sari atau spora jamur dapat menyebabkan radang konjungtiva. Radang ini disebut juga dengan alergi konjungtivitis.

Bila hal ini terjadi, maka bukan hanya sakit ketika berkedip, mata Anda juga akan memerah, gatal, dan berair. 

  • Blepharitis

Blepharitis merupakan kondisi yang ditandai dengan peradangan pada tepi kelopak mata, baik kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah. Peradangan ini akan membuat tepi kelopak mata Anda terasa perih dan nyeri saat berkedip.

Ada beberapa hal yang bisa membuat seseorang mengalami Blepharitis. Beberapa di antaranya adalah infeksi bakteri serta kondisi kelenjar mata yang tersumbat.

Tidak hanya itu, masalah kulit juga bisa memicu hal ini. Contohnya seperti dermatitis seboroik, yaitu gangguan kulit yang menyebabkan kulit bersisik dan berwarna kemerahan.

  • Mata kering

Anda mungkin tidak menyangka bahwa rasa nyeri ketika berkedip juga bisa disebabkan oleh kondisi mata yang kering. Pada dasarnya, mata akan berusaha untuk memproduksi lebih banyak cairan lewat air mata.

Hal ini dilakukan supaya Anda tetap bisa berkedip, bergerak, dan melihat dengan nyaman. Apabila cairan ini tidak berhasil diproduksi dalam jumlah yang cukup, mata Anda rentan mengalami kekeringan. 

Saat mata Anda menjadi kering, Anda akan merasakan berbagai gejala mata kering. Salah satunya adalah rasa nyeri ketika berkedip.

  • Glaukoma

Glaukoma terjadi ketika mata Anda mengalami tekanan yang cukup tinggi, melebihi tekanan mata normal. Mata sakit saat berkedip bisa menjadi salah satu gejala dari kondisi ini.

Saat seseorang terserang glaukoma, ia akan mengalami penumpukan cairan di mata. Biasanya, kondisi ini jarang menimbulkan gejala. 

Gejala rasa sakit ketika berkedip bisa saja menjadi pertanda bahwa glaukoma yang dialami sudah cukup parah dan menjadi masalah darurat. Bila hal ini terjadi, Anda harus segera mendapatkan pertolongan medis. 

  • Sinusitis

Sinusitis adalah kondisi peradangan pada selaput lendir. Tidak banyak orang yang tahu bahwa rasa nyeri ketika berkedip bisa juga disebabkan oleh sinusitis.

Sinus merupakan rongga kecil di antara hidung dan mata. Saat sinus meradang, Anda akan mengalami sinusitis. Biasanya hal ini disebabkan oleh infeksi virus.

Ketika Anda terserang sinusitis, berbagai gejala bisa Anda rasakan. Salah satunya adalah mata sakit saat berkedip.

  • Keratitis

Keratitis adalah infeksi yang terjadi pada kornea. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh virus maupun bakteri.

Salah satu gejala dari keratitis adalah nyeri ketika berkedip, serta mata berair. Selain itu, Anda mungkin akan merasakan seolah-olah ada pasir di mata Anda. 

Itulah beberapa faktor yang bisa menyebabkan mata sakit saat berkedip. Bila kondisi ini terus Anda alami dan tak kunjung membaik, sebaiknya lakukan konsultasi dengan dokter mata Anda. 

penyebab keracunan arsenik
Penyakit

Air Tanah Jadi Penyebab Keracunan Arsenik Terbanyak, Begini Mengantisipasinya

Arsenik merupakan logam yang secara alami ditemukan di bebatuan di kerak bumi. Arsenik sangat beracun, dan termasuk zat pemicu kanker (karsinogenik). Oksigen, klorin, dan belerang mengandung arsenik dalam jumlah kecil. Sementara itu. karena berasal dari dalam bumi, air tanah menjadi sumber arsenik terbesar.

Sangat banyak kasus dimana air tanah menjadi penyebab keracunan arsenik. Masalahnya mereka tidak sadar bahwa air yang mereka gunakan untuk minum atau mencuci buah dan sayur beracun.

Sumber racun arsenik dalam kehidupan sehari-hari

Air tanah yang terknotaminasi adalah penyebab keracunan arsenik yang paling umum. Awalnya kontaminasi terjadi akibat arsenik yang berasal dari tanah atau limbah pertanian, pertambangan, dan industri mengendap. Arsenik lalu meresap ke dalam air tanah, kemudian mengalir hingga akhirnya menyatu dengan sumber mata air tanah.

Jumlah arsenik dalam persediaan air tanah seperti sumur biasanya lebih tinggi daripada persediaan air permukaan seperti danau dan sungai, karena arsenik berdiam pada satu tempat.

Makanan dan tanaman juga menjadi sebab seseorang keracunan arsenik yang jarang disadari. Makanan yang dicuci dengan air yang telah terkontaminasi, begitupula tanaman yang disiram dengan air yang sama, akan ikut terkontaminasi dengan racun arsenik.

Namun arsenik pada tumbuhan dan hewan (arsenik organik) biasanaya kurang berbahaya dibandingkan arsenik anorganik yang terdapat di air, udara, dan tanah.

Gejala keracunan arsenik

Paparan arsenik dapat menghasilkan gejala langsung seperti:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Detak jantung tidak normal
  • Kesemutan di tangan dan kaki
  • Kram otot

Paparan arsenik dalam jangka panjang memiliki gejala yang lebih parah. Biasanya diawali dengan perubahan pada kulit, seperti lesi kulit dan munculnya bercak keras pada tangan dan telapak kaki (hiperkeratosis). Ini juga bisa memicu kanker kulit.

Selain itu, keracunan arsenik juga dapat menyebabkan kanker kandung kemih dan paru-paru. Efek lainnya adalah diabetes, penyakit paru, dan penyakit kardiovaskular. Pada beberapa kasus paparan arsenik dapat menyebabkan kematian bayi, atau gangguan pada fungsi otak.

Mencegah keracunan arsenik

Health Canada menetapkan jumlah maksimum arsenik dalam air minum yang dapat diterima adalah 10 μg / L, atau 0,010 miligram per liter (mg / L). Umumnya kadar arsenik dalam air kurang dari 0,005 mg \ L, tetapi konsentrasinya mungkin lebih tinggi di beberapa daerah.

Karena arsenik tidak berbau atau berasa, Anda harus memerhatikan sumber air Anda dengan melakukan uji kualitas atau kontaminannya secara rutin. Salah satu tindakan pencegahan yang paling efektif untuk mencegah keracunan adalah menggunakan air bersih yang disarin untuk keperluan makan dan minum.

Jika ternyata arsenik dalam air Anda melebihi batas yang disarankan, Anda bisa mencoba beberapa tips berikut ini:

  • Ganti sumber air tanah dengan sumber air yang memiliki kadar arsenik lebih rendah, misalnya air hujan atau air permukaan yang sudah disaring.
  • Membedakan wadah air dengan arsenik tinggi dan air rendah arsenik.
  • Mencampur air arsenik rendah dengan arsenik tinggi untuk mencapai tingkat konsentrasi arsenik yang dapat diterima.
  • Pasang sistem pembuangan arsenik dengan intervensi teknologi untuk menghilangkan arsenik seperti oksidasi, koagulasi-presipitasi, absorpsi, pertukaran ion, dan teknik membran.Cara ini akan berhasil dengan melibatkan masyarakat yang terlebih dulu sudah diberi tahu mengenai risiko paparan arsenik.

Catatan

Arsenik adalah salah satu dari 10 bahan kimia yang menjadi perhatian WHO dalam memastikan kesehatan masyarakat. Namun air bukanlah penyebab keracunan arsenik satu-satunya yang harus dikhawatirkan. Udara dan tanah bisa mengontaminasi dan menyebabkan seseorang keracunan.

Diskusikan mengenai perawatan dan pengobatan keracunan arsenik dengan dokter di aplikasi kesehatan SehatQ. Download sekarang di App Store atau Google Play Store.

Penyakit

Sering Cemas Karena Obesophobia, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Obesitas merupakan kondisi yang membuat banyak orang tidak percaya diri. Banyak oranng, terutama remaja memiliki ketakutan tinggi terhadap keadaan tersebut atau disebut juga obesophobia. Apabila dibiarkan terus menerus tanpa pemeriksaan dan pengobatan, obesophobia dapat menimbulkan komplikasi dan gangguan kesehatan.   

Cara mendiagnosa obesophobia

Dokter akan melakukan diagnosa medis dengan cara evaluasi psikologis. Akan tetapi, sebelumnya Anda harus mengetahui kapan saatnya pergi ke dokter apabila muncul tanda-tanda berikut ini:

  • Sering cemas ketika memikiran tentang berat badan
  • Terobsesi dengan penurunan berat badan
  • Diet terus menerus 
  • Menghindari aktivitas sosial yang berkaitan dengan makanan
  • Memiliki pandangan body image negatif tentang dirinya sendiri
  • Selalu membatasi asupan makanan
  • Terobsesi menghitung kalori sebelum mengonsumsi makanan atau minuman
  • Terlalu banyak berolahraga

Pada dasarnya, tidak ada tes formal yang mampu mendiagnosis obesophobia. Kondisi ini biasanya diidentifikasi oleh dokter sebagai gangguan kecemasan. Berikut ini evaluasi psikologis yang dilakukan:

  • Menanyakan gejala yang dialami
  • Mengevaluasi kebiasaan makan
  • Menganalisis riwayat medis, kejiwaan, serta sosial

Apabila doter mendiagnosa adanya kelainan, maka disarankan perawatan dan pengobatan lanjutan.

Cara mengatasi obesophobia

Perawatan dan pengobatan obesophobia bertujuan mengelola ketakutan dan kecemasan mengenai kenaikan berat badan serta mengurangi risiko adanya gangguan makan. Berikut ini perawatan dan pengobatan dengan pendekatan diagnosis gangguan makan:

  1. Psikoterapi

Penderita akan berkonsultasi selama beberapa sesi. Psikoterapi berfungsi mengurangi kecemasan dan meningatkan kepercayaan diri tentang body image. Metode yang paling umum dilakukan yaitu terapi kebiasaan kognitif yang meliputi pemeriksaan berikut ini:

  • Mengenali pola pikir yang menyimpang
  • Mengubah kepercayaan yang salah mengenai kesehatan
  • Menerapkan kebiasaan positif

Tes psikoterapi paling umum untuk mengatasi fobia dan gangguan kecemasan yaitu Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Penderita obesophobia akan mengakui pola pikir menyimpangnya. Terapis kemudian membantu mengubah kepercayaan negatif dan membantu penderita mempelajari kebiasaan positif. 

Selain itu, penderita juga mendapatkan exposure therapy. Terapis memberikan beberapa makanan tinggi kalori sebagai bentu terapi. Akan tetapi, cara ini harus dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu. 

  1. Obat-obatan

Umumnya fobia tidak diatasi dengan obat-obatan. Namun, dokter mungkin akan memberikan resep obat-obatan untuk mengatasi kecemasan antara lain: 

  • Antidepresan
  • Antipsikotik
  • Penstabil mood

Obat jenis antidepresan digunaan pasien yang menderita gangguan kecemasan dan mencegah serangan panik. Pastikan konsultasi ke psikiater terlebih dahulu sebelum memulai atau mengakhiri pengobatan. 

Apabila terhadi gangguan kebiasaan makan, penderita mungkin akan meresepkan obat-obatan terkait dengan gangguan tersebut. 

Kemungkinan terjadinya kurang gizi

Anoreksia nervosa dan bulimia merupakan akibat dari obesophobia. Anoreksia nervosa merupakan ketakutan berlebihan akan penambahan berat badan. Penderita anoreksia nervosa menjadi sangat kurus dengan pola makan terbatas. Kondisi ini bisa sangat merusak tubuh karena berisiko menyebabkan pengeroposan tulang, kemandulan, rapuhnya kuku dan tulang, serta tumbuhnya lapisan rambut halus di seluruh tubuh. 

Sementara bulimia memiliki gejala yang hampir sama dengan anoreksia nervosa. Namun, penderita bulimia cenderung mempertahankan berat badan normalnya. Biasanya penderita makan dalam jumlah sangat banyak dalam jangka waktu tertentu karena tidak mampu mengontrol keinginannya. Kemudian penderita bulimia mencoba mengeluarkan makanan yang dikonsumsinya dengan cara muntah paksa, puasa, minum obat pencahar, atau olahraga berlebihan. 

Apabila kedua kondisi tersebut, terutama anoreksia nervosa, terjadi terus menerus tanpa diberikan perawatan dan pengobatan maka kasus kurang gizi sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, jika Anda merasakan tanda dan gejalanya segera periksakan diri ke dokter.

Penyakit

Apa Itu Neurofibromatosis Tipe 2?

Neurofibromatosis (NF) adalah sebuah gangguan genetik yang menyebabkan tumor untuk tumbuh di otak, sumsum tulang belakang, dan saraf. Kondisi ini terjadi sebagai hasil dari ketidaknormalan gen. Ada dua jenis NF, yang mana keduanya dapat menyebabkan pertumbuhan tumor di berbagai macam daerah tubuh. Neurofibromatosis tipe 1 (NF1) lebih umum dijumpai dibandingkan dengan neurofibromatosis tipe 2 (NF2). NF1 menyebabkan tumor terbentuk di berbagai jaringan dan organ tubuh. Hal ini menyebabkan gangguan atau masalah kulit dan cacat tulang. Sementara itu, neurofibromatosis tipe 2 (NF2) menyebabkan tumor terbentuk di otak dan saraf tulang belakang. Meskipun kebanyakan jenis tumor yang disebabkan oleh NF bukanlah kanker, tumor tersebut masih dapat berbahaya dan mengganggu kualitas hidup Anda. 

NF2 dan tumor

Neurofibromatosis tipe 2 menyebabkan tumor non-kanker untuk tumbuh pada saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Berbeda dengan NF1, neurofibromatosis tipe 2 tidak selalu menunjukkan gejala yang terlihat dan jarang ditemui terjadi pada anak-anak. Tumor yang disebabkan oleh NF2 biasanya pada saraf kranial kedelapan, yang menghubungkan bagian dalam telinga dengan otak. Tumor ini juga dikenal dengan sebutan acoustic neuroma, yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan masalah pada keseimbangan. Schwannoma adalah jenis lain tumor yang dapat terjadi pada orang-orang yang menderita neurofibromatosis tipe 2 (NF2). Tumor ini berasal dari sel Schwann, yang melindungi sel saraf dan neurotransmitter Anda. Schwannoma sumsum tulang belakang merupakan hal yang umum dijumpai pada mereka yang memiliki NF2. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan. 

NF2 dan genetik

Mengingat neurofibromatosis tipe 2 merupakan sebuah kondisi genetik, gangguan ini dapat diwariskan dari orang tua. Namun, hal ini tidak selamanya demikian. Menurut Institut Gangguan Saraf dan Stroke Nasional, sekitar 30 hingga 50 persen dari kasus tersebut disebabkan karena mutasi genetik acak. Saat mutasi terjadi, kondisi ini dapat diwariskan dari generasi ke generasi. 

Gejala NF2 dapat muncul pada usia berapapun, namun biasanya berkembang pada saat remaja atau awal pendewasaan. Gejala dapat bervariasi, dengan tingkat keparahan tergantung pada lokasi di mana tumor berada pada tubuh. Beberapa gejala NF2 yang paling umum dijumpai di antaranya adalah suara berdenging di telinga, adanya gangguan pada keseimbangan penderita, glaucoma (sebuah penyakit mata yang merusak saraf optik), hilangnya kemampuan pendengaran, gangguan penglihatan, mati rasa atau kelemahan pada tangan dan kaki, serta kejang. Hubungi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan apabila Anda menderita gejala-gejala tersebut. Gejala tersebut juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan lain, sehingga diagnosa yang akurat dan tepat sangat dibutuhkan dan penting. 

Orang-orang dengan neurofibromatosis tipe 2 dapat mengembangkan tumor kulit jinak, sama dengan karakteristik penyakit Nf1. Tumor tersebut harus terus dipantau guna memastikan ada atau tidak adanya pertumbuhan, perubahan, ataupun menyebabkan rasa nyeri apapun. Tumor otak jinak dapat memberikan tekanan pada beberapa bagian otak dan menyebabkan gegar otak, gangguan penglihatan, dan masalah pada keseimbangan. Bahkan, beberapa di antaranya dapat berubah menjadi kanker. Sementara itu, tumor sumsum tulang belakang pada saraf di sekitar tulang belakang dapat menyebabkan tubuh gemetar, mati rasa, dan nyeri pada kaki. Tumor di sekitar leher dapat menyebabkan gangguan pada wajah, misalnya kesulitan tersenyum, berkedip, atau bahkan menelan. Untuk menghindari komplikasi tersebut, deteksi dini, diagnosa yang tepat, dan perawatan yang cepat sangat diperlukan. 

Penyakit

Mengatasi Fibrosis Hati dengan Rutin Mengonsumsi Kopi

Salah satu tahap paling awal dari kerusakan atau gagalnya organ hati adalah fibrosis hati. Sebenarnya, fibrosis hati merupakan mekanisme alami organ tersebut untuk mengatasi masalah yang dialaminya. Namun, lama kelamaan kondisi ini justru membuat organ hati menjadi rusak dan gagal berfungsi.

Menurut definisi yang telah dirumuskan oleh para ahli, fibrosis hati adalah salah satu jenis hepatitis atau radang yang terjadi pada hati sebagai upaya untuk menyelamatkan luka yang terjadi pada hati, dan melibatkan sederet jenis sel induk dan mediator.

Setiap kali hati cedera atau mengalami masalah, hati akan sembuh dengan sendirinya. Ini menyebabkan pembentukan jaringan parut pada hati. Jika hati secara terus-menerus cedera, jaringan parut akan menumpuk dalam hati dan menggantikan sel hati yang sehat. Kondisi inilah yang dikenal dengan fibrosis hati.

Kondisi ini masih bisa diupayakan dengan cara yang cenderung sederhana dan mudah. Ya, seseorang cuma perlu mengonsumsi kopi secara rutin. Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di  Journal of Hepatology, kopi bisa mencegah seseorang terkena fibrosis hati. Fibrosis hati adalah tahap awal penyakit gangguan hati yang dikenal dengan sirosis.

Kopi menjadi bahan alami yang efektif karena mengandung antioksidan yang diyakini mampu melindungi organ hati dari kerusakan. Penelitian yang dilakukan di Rotterdam, Belanda, ini melibatkan 2.424 peserta penelitian. Rata-rata umur peserta penelitian adalah 45 tahun ke atas.

Setiap peserta penelitian menjalani pemeriksaan fisik secara lengkap seperti indeks massa tubuh (IMT), tinggi badan, tes darah, dan pemindaian perut untuk memeriksa kondisi organ hati dan melihat perkembangan fibrosis hati pada masing-masing peserta penelitian.

Mereka juga diberikan 389 pertanyaan mengenai kebiasaan makan dan minum untuk mengetahui asupan kopi yang mereka minum, mengingat ini adalah penelitian untuk menganalisis manfaat kopi bagi hati.

Peserta penelitian dibagi ke dalam tiga kategori sesuai dengan pola minum kopi mereka. Kategori pertama tidak mengonsumsi kopi, kategori kedua konsumsi kopi moderat yang artinya peserta penelitian minum kopi tiga cangkir per hari, dan terakhir konsumsi kopi sering, yaitu peserta penelitian yang minum kopi lebih dari tiga cangkir per hari.

Lalu, para peneliti menganalisis hubungan antara minum kopi dan fibrosis hati. Para peneliti juga meneliti berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta aktivitas fisik dan pola makan yang sehat.

Hasilnya, ditemukan bahwa peserta penelitian yang sering minum kopi memiliki risiko lebih rendah terkena fibrosis hati dan sirosis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebiasaan Anda minum kopi memiliki efek menguntungkan, yaitu mencegah jaringan parut hati atau sirosis bahkan sebelum penyakit ini berkembang.

Selain itu, di lain penelitian, kandungan asam di dalam kopi dapat bekerja melawan virus penyebab hepatitis B. Hepatitis B sendiri merupakan salah satu penyebab utama terjadinya fibrosis hati. Kandungan utama kopi, yakni kafein, digadang-gadang sebagai agen utama dalam mengatasi fibrosis hati ini. 

Saat mencerna kafein, tubuh juga membentuk zat kimia yang disebut paraxanthine. Senyawa ini akan memperlambat pertumbuhan jaringan parut dalam fibrosis hati. Lebih lanjut, dua kandungan lain dalam kopi, yaitu Kahweol dan Cafestol juga diketahui bersifat anti-kanker.

Dengan demikian dapat ditarik sebuah kesimpulan jika rutin mengonsumsi kopi dapat menjaga organ hati seseorang tetap dalam kondisi yang prima. Namun, seseorang juga tak diperkenankan mengonsumsi kopi secara berlebih. Sebab biar bagaimana juga, tetap ada efek-efek tertentu yang bisa menyebabkan masalah lain pada tubuh.

Memang hingga saat ini belum terdapat rekomendasi spesifik mengenai jumlah asupan kopi yang aman dan dapat bermanfaat untuk kesehatan organ hati seseorang, termasuk mengatasi fibrosis hati. Penelitian sejauh ini hanya menunjukkan konsumsi kopi tingkat sedang (3-4 cangkir per hari) secara teratur dapat bermanfaat. 

Waspadai Duktus Arteriosus Paten Pada Bayi Baru Lahir
Penyakit

Waspadai Duktus Arteriosus Paten Pada Bayi Baru Lahir

Duktus arteriosus paten merupakan kondisi cacat jantung bawaan yang terjadi pada bayi baru lahir. Kondisi ini disebut juga dengan patent ductus arteriosus (PDA). 

PDA ditandai dengan adanya bukaan di antara dua pembuluh darah yang mengarah ke jantung. Sebenarnya, pembukaan merupakan kondisi yang normal dalam sistem peredaran darah sebelum bayi dilahirkan. Biasanya, pembukaan ini akan menutup dengan sendirinya segera setelah bayi lahir.

Akan tetapi, bila setelah dilahirkan bukaan tetap terbuka, maka bayi Anda mungkin mengalami PDA. 

Penyebab duktus arteriosus paten pada bayi

Hingga kini, belum diketahui dengan jelas apa faktor yang menyebabkan bukaan di pembuluh darah bayi tidak berhasil tertutup setelah dilahirkan. Biasanya, kondisi ini lebih rentan  dialami oleh bayi yang lahir secara prematur. 

Cacat jantung bawaan muncul dari masalah di awal perkembangan jantung, yaitu ketika bayi sedang berkembang di dalam kandungan. Sebelum lahir, koneksi antara dua pembuluh darah utama yang mengarah ke jantung diperlukan untuk sirkulasi darah bayi. 

Hal ini juga mempengaruhi proses aliran darah dari paru-paru bayi serta upaya bayi menerima oksigen dari pernapasan sang ibu. 

Segera setelah bayi dilahirkan, pembuluh darah yang membuka ini akan tertutup. Biasanya, penutupan ini terjadi sekitar dua sampai tiga hari setelah kelahiran. Namun, pada bayi prematur, mungkin dibutuhkan waktu yang lebih lama.

Jika sambungan tetap terbuka, anak Anda menderita duktus arteriosus paten. Kondisi ini bisa mengakibatkan terlalu banyaknya darah yang mengalir ke paru-paru dan jantung bayi. Bila tidak ditangani, tekanan darah di paru-paru bayi akan mengalami peningkatan. 

Tanda-tanda bayi mengalami duktus arteriosus paten

Bukaan pada pembuluh darah bayi bisa berukuran kecil ataupun besar. Artinya, gejala yang ditimbulkan pun berbeda, tergantung lebarnya bukaan tersebut. Jika bukaan berukuran kecil, maka gejala yang dialami pun kemungkinan lebih sederhana atau tidak menimbulkan gejala sama sekali. 

Umumnya, bayi yang menderita PDA akan merasakan gejala berupa: 

  • Berkeringat
  • Kesulitan bernapas
  • Pusing
  • Kenaikan berat badan yang lemah
  • Tidak ada selera makan
  • Detak jantung yang melebihi normal
  • Warna kulit yang membiru karena kekurangan oksigen
  • Kelemahan

Dalam kasus yang cukup jarang, PDA bisa menimbulkan gejala tambahan dan komplikasi berupa tekanan darah tinggi di paru-paru, pembesaran jantung, serta gagal jantung kongestif. 

Pilihan pengobatan untuk bayi dengan duktus arteriosus paten

Apabila bukaan yang terjadi sangat kecil dan tidak menimbulkan gejala, bayi Anda tidak memerlukan pengobatan khusus. Tetapi, jika bukaan bertambah besar, pengobatan yang akan dilakukan berupa:

  • Operasi

Operasi secara khusus dilakukan untuk kondisi duktus arteriosus paten yang sangat parah dan tidak berhasil diatasi dengan upaya pengobatan lain. Jenis pengobatan dengan cara ini biasanya hanya dianjurkan untuk bayi yang sudah berusia 6 bulan atau lebih.

Akan tetapi, bayi di bawah usia 6 bulan juga diperbolehkan menjalani operasi apabila mengalami gejala yang sangat parah. 

  • Prosedur kateter

Kateter adalah tabung tipis yang diarahkan melalui pembuluh darah dari selangkangan bayi. Kateter digunakan untuk memblokir aliran darah melalui pembuluh darah, memungkinkan aliran darah untuk mengalir kembali dengan normal. 

  • Obat-obatan

Pada bayi prematur, dokter mungkin akan memberikan obat berjenis indometasin melalui cairan infus. Obat ini bisa membantu mengencangkan otot dan menutup bukaan pada pembuluh darah.

Dokter akan menentukan upaya pengobatan yang paling tepat, sesuai dengan kondisi duktus arteriosus paten yang dialami bayi Anda. Anda perlu mengantisipasi apabila bayi Anda terkena PDA, khususnya bila bayi Anda lahir secara prematur.

Mengenal Craniosynostosis, Kondisi Cacat Lahir pada Bayi
Penyakit

Mengenal Craniosynostosis, Kondisi Cacat Lahir pada Bayi

Craniosynostosis merupakan kondisi cacat lahir yang terjadi ketika satu atau lebih sutura di tengkorak bayi menutup sebelum otak bayi terbentuk dengan sempurna. Sutura tulang sendi yang ada pada tengkorak bayi. 

Terdapat tujuh tulang sendi yang membentuk sutura, terbuat dari jaringan serat yang lentur dan menghubungkan ketujuh tulang sendi tersebut. Biasanya, sutura akan terus terbuka sampai bayi berusia 2 tahun. Penutupan yang terlalu cepat akan membuat otak mendesak tulang, menyebabkan bentuk kepala bayi tampak cacat.

Jenis-jenis craniosynostosis

Terdapat beberapa jenis craniosynostosis yang ditentukan berdasarkan sutura mana yang terpengaruh dan faktor penyebabnya. Sebagian besar penderita kondisi ini hanya mengalami masalah pada satu sutura. Jenis-jenis tersebut antara lain: 

  • Sagittal craniosynostosis

Jenis craniosynostosis yang satu ini merupakan jenis yang paling umum terjadi. Kondisi ini mempengaruhi satura sagital yang ada di bagian atas tengkorak. Saat kepala bayi tumbuh, bentuknya akan menjadi panjang dan sempit. 

  • Coronal craniosynostosis

Jenis ini terjadi pada sutura koronal yang membentang dari masing-masing telinga ke bagian atas tengkorak bayi. Kondisi ini menyebabkan salah satu sisi dahi bayi tampak rata, sementara sisi lainnya tampak menonjol. 

  • Metopic craniosynostosis

Jenis ini mempengaruhi sutura metopik yang membentang dari bagian atas kepala di bagian tengah dahi sampai ke pangkal hidung. Biasanya, bayi yang mengalami jenis ini akan memiliki bentuk kepala menyerupai segitiga dan posisi mata yang terlalu dekat satu sama lain. 

  • Lambdoid craniosynostosis

Lambdoid craniosynostosis termasuk jenis yang paling langka. Kondisi ini melibatkan satura di bagian belakang kepala. Kepala bayi akan tampak datar dan salah satu sisinya tampak miring. 

Gejala dan penyebab craniosynostosis

Biasanya, gejala dari craniosynostosis akan tampak jelas tepat setelah bayi dilahirkan atau beberapa bulan kemudian. Gejalanya meliputi: 

  • Bentuk tengkorak tidak rata
  • Pertumbuhan kepala bayi yang tidak normal
  • Ubun-ubun yang tidak normal atau hilang di bagian atas kepala bayi
  • Tepi yang tampak keras dan terangkat di sekitar sutura 

Selain gejala fisik, bayi juga akan mengalami gejala lainnya, tergantung pada jenis yang diderita. Umumnya, gejala tambahan akan berupa:

  • Sakit kepala
  • Hilangnya kemampuan penglihatan
  • Ketidakmampuan untuk belajar
  • Rongga mata yang terlalu lebar atau terlalu sempit

Untuk mengetahui penyebab dari craniosynostosis yang dialami, dokter perlu menjalani serangkaian pemeriksaan pada bayi Anda. Kondisi ini sebenarnya tergolong cukup langka. Tapi, kondisi ini terjadi karena adanya kelainan genetik. 

Beberapa sindrom yang disebabkan oleh kelainan genetik bisa memicu craniosynostosis, seperti: 

  • Sindrom Saethre-Chotzen
  • Sindrom Apert
  • Sindrom Carpenter
  • Sindrom Pfeiffer
  • Sindrom Crouzon

Komplikasi craniosynostosis yang tidak diobati

Bila tidak segera diatasi, kondisi craniosynostosis yang diderita bayi bisa menimbulkan sejumlah komplikasi. Komplikasi utamanya berupa perubahan bentuk kepala dan wajah secara permanen serta isolasi sosial.

Selain itu, kondisi ini juga bisa menyebabkan komplikasi medis berupa:

  • Gangguan kognitif
  • Kejang-kejang
  • Kematian, tapi cukup jarang terjadi
  • Gangguan pergerakan mata
  • Kebutaan
  • Keterlambatan proses perkembangan
  • Tidak ada energi atau minat

Resiko peningkatan tekanan dalam tengkorak akibat kondisi ini sebenarnya tergolong kecil, selama satura dan bentuk kepala masih bisa diperbaiki melalui operasi. Tapi, jika sindrom yang mendasari kondisi ini tak diselesaikan, kondisi ini akan sulit diatasi dan memicu komplikasi. 

Karena itu, saat menyadari bayi mengalami craniosynostosis, sebaiknya segera konsultasikan kondisi bayi pada dokter. Dokter bisa mendeteksi kondisi ini langsung beberapa bulan setelah bayi lahir.